Card image
Niat Qadha Puasa Ramadhan Sekaligus Niat Puasa Sunnah

Oleh: H. Ainul Yaqin, M.Si.
Sekretaris Umum MUI Prov. Jatim
Mengqadha puasa, wajib dilakukan bagi orang yang tidak berpuasa di siang hari pada bulan Ramadhan karena udzur seperti sakit, perjalanan, karena menstruasi, dan nifas,  juga yang  meninggalkan puasa Ramadhan bukan karena udzur. Perempuan yang sedang menstruasi dan nifas tidak sah melakukan puasa dan harus mengqadha di hari yang lain, berdasarkan hadis A’isyah ra, beliau berkata: “Dahulu kami mengalaminya (menstruasi), maka kami diperintah untuk mengqadha puasa, tapi tak diperintah untuk mengqadha shalat.” (HR. Muslim)
Qadha puasa Ramadhan dapat ditunda hingga beberapa bulan ke belakang sesuai dengan Hadits A’isyah ra, “Aku dahulu masih punya utang puasa dan aku tidak mampu melunasinya selain pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari). Hal ini khusus untuk yang meninggalkan puasa karena udzur. Bagi yang meninggalkan puasa karena teledor, maka wajib qadha sesegera mungkin, haram ditunda-tunda.
Lalu bagaimana jika mengqadha puasa diniatkan juga mengerjakan puasa sunnah, para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Secara umum orang yang mengqadha puasa waktunya ditepatkan pada waktu-waktu puasa sunnah seperti hari Senin-Kamis, hari-hari ayyam al-bidh (tanggal 13, 14, 15), hari Arafah, dan hari Asyura, maka akan memperoleh keutamaan juga dari puasa sunnahnya. Hal ini sebagaimana pendapat al-Khatib al-Syarbini, Syekh Sulaiman al-Jamal, Syekh al-Ramli. Bahkan seperti disampaikan oleh al-Barizi, sekiranya hanya berniat qadha saja khususnya pada hari-hari yang sangat dianjurkan seperti hari Arafah dan Asyura, masih tetap mendapatkan pahala dari keutamaan hari-hari tersebut. Puasa pada hari yang disunnahkan pada dasarnya bisa diniatkan dengan niat puasa mutlak, misalnya cukup dengan ungkapan saya berniat untuk puasa.
Pendapat yang berbeda dengan di atas, disampaikan oleh Abu Makhramah mengikuti pendapat al-Samhudi, bahwa tidak mendapatkan sesuatu dari keduanya, ketika diniati qadha dan puasa sunnah secara bersamaan, seperti niat shalat dhuhur dan sunnah qabiyah Dzuhur.
Khusus terkait dengan puasa 6 hari bulan Syawal, berdasarkan dzahir hadis (sebagaimana riwayat Muslim), “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh”, maka tidak ada pahala kesunnahannya, jika digabung dengan niat qadha. Namun munurut Ibnu Hajar al-Haitami, akan mendapatkan pahala dari sunnah, jika disempurnakan niatnya. Bahkan menurut Syams al-Din al-Ramli, tetap mendapatkan pahalanya sekalipun tidak diniatkan sunnah sebagaimana puasa sunnah yang lain. Sedang menurut al-Syarqawi mengabungkan niat puasa Syawal dengan qadha Ramadhan tetap mendapatkan pahala, hanya saja berbeda dengan pahala orang mengkhususkan puasa syawal.
Berbeda dengan itu, Syeikh Shalih bin Utsaimin bahkan tidak membolehkan seseorang berpuasa 6 hari di bulan Syawal sebelum melaksanakan qadha Ramadhan.
Hal tersebut di atas, karena kedudukan puasa Syawal mempunyai keterkaitan dengan puasa Ramadhan. Hemat saya, khusus jika ingin melakukan puasa sunnah 6 hari bulan Syawal, bisa lebih dahulu melakukan qadha puasa Ramadhan. Wallahu a’lam.
 

Sebarkan Kebaikan Anda

ZAKAT MANDIRI adalah Platform Donasi Digital milik LAZNAS Yatim Mandiri, sebagai media untuk memudahkan Donatur dalam menunaikan kewajiban Zakatnya.