Card image
Nikah Berkah

Oleh: Ust. Heru Kusumahadi, Lc. M.Pd.I. (Pembina Komunitas @surabayahijrah) Kriteria apakah, yang menjadi prioritas pertama dari calon pasangan kalian? Tanyaku kepada teman-teman yang hadir di acara talkshow pranikah. Tentunya sangat macam ragam jawaban yang disampaikan teman-teman. Namun ku respon dengan ucapan, “Menurutku semuanya benar, tapi bukan diletakkan urutan pertama”, Ku lanjutkan ”Sungguh kriteria pertama adalah jenis kelamin dari calon kita haruslah berbeda dengan kita”. Dan senyum dan tawa meramaikan suasana saat itu.

Dilain waktu, saat kajian pranikah pun, acap kali ku tanyakan, “Saat menikah, siapa yang ingin selalu bahagia?”, Mayoritas yang hadir pun menjawab serentak, “saya!”. Tapi syahdan, ku respon dengan kalimat yang membuat mereka berpikir dalam diamnya, “Maka, kalian tidak akan pernah menikah!”

Shalihin dan shalihat. Menikah adalah aktualisasi atas kepemilikan cinta yang memuara kepada keberkahan, bukan kepada kebahagiaan. Mengapa?, karena menjadi keniscayaan dalam durasi menikmati kata berkeluarga akan terjadi problematika rumah tangga, dan ini menjadi kepastian yang harus dinikmati, tak hanya dirasakan. Nah, dimulai adanya permasalahan inilah keberkahan itu menjadi kebaikan-kebaikan yang dicitakan.

Ada dua hal yang mendasari pernikahan memastikan akan adanya problematika, yaitu: Pertama, karena kata “azwaja”. Kata ini terdapat di surah ar-Rum ayat 21, yang sering diterjemahkan berpasang pasangan. Namun, makna dasarnya adalah sesuatu yang berbeda dipasangkan. Iya!, yang berbeda. Yaitu seorang laki-laki dan perempuan. Sehingga saat yang berbeda ini dipasangkan maka bisa dipastikan akan adanya gesekan, miskomunikasi, kesalahpahaman, dan problematika dalam rumah tangga. Hal ini dikarenakan tiap laki-laki dan perempuan berbeda, baik sisi fisik, psikis, hormon, karakter, sifat dan lainnya. Secara detail perbedaan laki-laki dan perempuan bisa dibaca di buku “Man are from Mars, women are from Venus”.

Dua, karena saat pernikahan selalu dilantunkan doa-doa penuh berkah, yaitu “Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair”.  Yang artinya keberkahan untukmu dan atasmu. Nah, kata laka lebih mengartikan pada hal positif. Semoga keberkahan untuk hal-hal yang kamu membahagiakan dan menyenangkan. Sedangkan ‘alaika menunjukkan pada hal negatif. Jadi, semoga –tetap- keberkahan itu menyelimuti ujian, cobaan, masalah, dan ketidaknyamanan dalam berumah tangga.

Nah, shalihin dan shalihat poinnya adalah di doa yang diharapkan yaitu keberkahan. Meskipun permasalahan itu muncul, kan rasa pahit itu bisa dinikmati; ibarat kopi. Begitupun problematika berkeluarga tetap akan ternikmati, jika menikmatinya dengan harapan berkah.

Caranya?, Aktualisasikan informasi pada QS. al-A’raf: 96. Pertama, Munculkan respon keimanan kepada Allah dalam setiap permasalahan berkeluarga, sebagaimana Nabi Ibrahim dan Hajar, memunculkan sebuah inspirasi berkah melalui quality of response yang unbelievabel, hingga berkahnya muncul air zam-zam dan terbentuknya kota Mekah. Kedua, Praktikkan kata taqwa dalam interaksi berumah tangga, sebagaimana Rasulullah bersama istri-istri beliau. Hingga terucap ungkapan romantis dalam sabda beliau yang selalu mengaitkan kepada Allah, “Innii Qad Ruziqtu Hubbaha”. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepadaku rasa cinta kepada istriku. Semoga dengan hal ini, nikah kan memuara berkah.

Sebarkan Kebaikan Anda

ZAKAT MANDIRI adalah Platform Donasi Digital milik LAZNAS Yatim Mandiri, sebagai media untuk memudahkan Donatur dalam menunaikan kewajiban Zakatnya.