Card image
Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang Tunai

Oleh: Prof. Dr. H. A. Faishal Haq, M.Ag
Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya
Zakat merupakan sesuatu yang harus dikeluarkan oleh seseorang, karena hal itu menjadi hak Allah untuk diberikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Dinamai dengan zakat, karena dengan mengeluarkan zakat diharapkan turunnya berkah, pembersihan jiwa dan harapan semoga harta kita berkembang, di antara ayat-ayat dan hadis-hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah surah at-Taubah (9) ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Dan surah al-Baqarah (2) ayat 276: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah ...”.
Sedangkan hadis Nabi antara lain: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima shadaqah (zakat) dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Ia kembangkan/rawat sebagaimana kalian merawat anak kuda sampai besar, sehingga sesuap nasi bisa menjadi sebuah gunung Uhud” (HR. Ahmad dari Abi Hurairah).
Zakat ada 2 (dua) macam, yaitu: Zakat Mal dan Zakat Fitrah. Zakat Mal adalah zakat dari harta simpanan kaum muslimin yang sudah mencapai senisob (kurang lebih 60 juta rupiah) dan sudah dimiliki selama satu tahun, seperti emas, perak atau uang kertas. Walaupun demikian ada harta yang tidak menunggu satu tahun, tetapi kewajiban zakatnya setiap kali panen, seperti yang tercantum dalam surah al-An’am (6) ayat 141: “... Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
Beda dengan zakat Fitrah, zakat Fitrah punya aturan tersendiri, antara lain: Pertama, Zakat ini diwajibkan terkait dengan datangnya hari raya Fitri setelah bulan Ramadhan selesai, baik anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka maupun hamba sahaya, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mewajibkan kepada kaum muslimin zakat fitrah di bulan Ramadhan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum/beras (satu sho’ sama dengan 2,5 kg beras), baik hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil maupun orang dewasa.
Kedua, Zakat ini merupakan pembersih dosa bagi orang yang berpuasa dan menjadi santunan untuk orang-orang miskin, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat Fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tak ada guna dan perkataan yang kotor serta sebagai santunan bagi orang-orang miskin. 
Ketiga, Zakat ini diwajibkan kepada orang yang mempunyai kelebihan makanan untuk dirinya dan keluarganya di malam dan siang hari raya, sehingga untuk zakat Fitrah bisa terjadi orang miskin pun wajib zakat Fitrah, asalkan ia mempunyai kelebihan makanan di malam dan siang hari raya.
Semua imam mujtahid sepakat bahwa zakat Fitrah ini wajib dikeluarkan berupa makanan pokok suatu daerah, jika makanan pokoknya berupa kurma, maka zakat Fitrahnya berupa kurma dan jika makanan pokoknya berupa beras, maka zakat Fitrahnya berupa beras, sebagaimana hadis bahwa Rasulullah SAW mewajibkan kepada kaum muslimin zakat fitrah di bulan Ramadhan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum/beras, baik hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil maupun orang dewasa (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar). 
Tetapi Imam Abu Hanifah memperbolehkan mengeluarkan zakat Fitrah dengan harganya, artinya mengeluarkan zakat Fitrah dengan uang seharga makanan pokok tersebut, jika harga satu kg beras Rp. 10.000,-, maka uang yang harus dikeluarkan Rp. 25.000,-
Ada 2 (dua) opsi dalam pelaksanaan zakat Fitrah dalam bentuk uang tunai, Pertama: Muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) langsung membawa uang dan uang itu diserahkan kepada amil zakat yang ada di daerah tersebut. Kedua: Muzakki dari rumah membawa uang, sampai di hadapan amil, ia beli beras seukuran zakat Fitrah, yaitu 2,5 kg, setelah itu ia serahkan kepada amil.
Untuk jual-beli beras zakat Fitrah ini ada beberapa persyaratan: Pertama, Amil harus menyiapkan beras fitrah terlebih dahulu, bukan mengambil beras zakat Fitrah orang lain, lalu dijual ke muzakki.
Kedua, Jual-beli beras ini tidak boleh dilakukan di dalam masjid, harus disiapkan tempat untuk jual-beli beras zakat ini.
Ketiga, Amil boleh mengambil laba dari kegiatan ini, umpamanya: Amil beli beras di pasar dengan harga sepuluh ribu rupiah per kilo, kemudian dijual ke muzakki sepuluh ribu lima ratus rupiah.
 

Sebarkan Kebaikan Anda

ZAKAT MANDIRI adalah Platform Donasi Digital milik LAZNAS Yatim Mandiri, sebagai media untuk memudahkan Donatur dalam menunaikan kewajiban Zakatnya.