Card image
Zakat Perniagaan

Oleh: Prof. Dr. H. A. Faishal Haq, M.Ag (Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya)

 

Harta yang kita pakai untuk keperluan sehari-hari bukan harta perniagaan dan tidak kena zakat, sedangkan harta yang kita kembangkan dengan cara jual-beli atau yang lain, itulah harta perniagaan yang harus dikeluarkan zakatnya setiap tahun. Hal ini berdasar pada firman Allah yang terdapat pada surah al-Baqarah (2): ayat 219 “... Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan (perlu dizakati), katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.

 

Jika si A punya modal Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) kemudian dibelikan barang untuk dijual lagi, maka harta itu sudah masuk kategori harta perniagaan. Tetapi karena belum mencapai senisob, yaitu sekitar Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah), maka belum dikenai zakat. Berarti syarat harta perniagaan itu ada dua, yaitu harta yang dikembangkan dan sudah mencapai senisob.

 

Jika di tengah perjalanan modal itu berkembang menjadi seratus juta rupiah, misalnya, maka sejak tanggal itulah perhitungan tahun dimulai. Contoh: A memulai buka usaha bulan April 2019 dengan modal lima puluh juta rupiah. Pada tanggal 21 Oktober 2019 harta A menjadi enam puluh juta rupiah (mencapai nisab), maka pada tanggal 11 Oktober 2020, A wajib mengeluarkan zakat perniagaan hartanya, yaitu 2,5 %.

 

Perhitungan pengeluaran zakat, menggunakan tahun Hijriyah, tetapi boleh kita menggunakan hitungan Miladiyah (umum) dengan cara maju 10 hari. Jika memulai usaha tanggal 21 Oktober 2019, maka wajib mengeluarkan zakatnya pada tanggal 11 Oktober 2020 dan ini jatuh tempo, berarti dianjurkan untuk mengeluarkan zakat sebelum tanggal 11 Oktober 2020 tersebut.

 

Beda dengan B yang memulai buka usaha dengan modal seratus juta rupiah, umpamanya. Kemudian satu tahun berikutnya kekayaannya menjadi seratus dua puluh juta rupiah, maka ia harus mengeluarkan zakat perniagaannya adalah 2,5 ?ri seratus dua puluh juta rupiah sama dengan tiga juta rupiah.

 

Tetapi jika di tengah jalan si B mengalami kerugian, sehingga kekayaannya tinggal lima puluh juta rupiah, maka ia tidak dikenai wajib zakat. Jika ia mau bershodaqoh, boleh-boleh saja. Sebab ada beberapa ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang menyatakan bahwa shodaqoh itu akan mengembangkan harta, seperti yang tercantum dalam surah al-Baqarah (2): 276 “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”.

 

Dalam ayat yang lain, yaitu ayat 245 surah al-Baqarah (2) Allah berjanji untuk mengembalikan hutang dengan lipatan yang banyak kepada orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

 

Dalam salah satu hadisnya Nabi bersabda: “Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi pada setiap harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun, salah satunya memohon, Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya, dan satu lagi memohon, Ya Allah, musnahkanlah harta si bakhil” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).

 

Adi bin Hatim berkata: “Rasulullah saw menyebutkan tentang neraka, maka wajah beliau berubah, lalu beliau berlindung darinya sebanyak tiga kali, lalu beliau bersabda: “Takutlah kalian dari api neraka, walaupun bersedekah dengan sepotong kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka dengan kalimat yang baik” (HR. an-Nasa-i, at-Tirmidzi dan Ahmad).

 

Al-Qur’an mengancam keras kepada orang yang tidak mengeluarkan zakat hartanya, seperti yang tercantum dalam surah at-Taubah (9): 34-35 “... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (tidak dizakati), maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendaptkan) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas  perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka; (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.   

Sebarkan Kebaikan Anda

ZAKAT MANDIRI adalah media literasi Zakat dan Bisnis Berkah yang berada dalam naungan Yayasan Yatim Mandiri.